5 Alasan Indonesia Ladang Subur UKM

Ketika Indonesia merumuskan masa depan sebagai negara independen, Bung Hatta sudah memikirkan ekonomi kerakyatan sebagai solusi.

Bung Hatta telah meramalkan sulitnya pembangunan yang merata dengan situasi geografis dan sosial budaya beragam seperti Indonesia ini. Terlampau banyak, sampai kita tidak tahu pasti berapa jumlah pulau di Indonesia.

Jelas akan menantang jika pembangunan dilakukan dengan sentralisasi. Kalau kita harus “menunggu giliran” bantuan dari pemerintah, kita akan terhambat.

Berikut adalah 5 alasan Indonesia merupakan ladang subur untuk UKM. Semoga dapat semakin membakar semangat wirausaha!

1. Pasar terjamin

via Freepik

Pada tahun 2017, Indonesia tercatat memiliki lebih dari 260 juta penduduk. Bayangkan jika ada 0.001% saja yang akan menjadi pasar Anda, maka sudah ada sekitar 2600 orang yang berpotensi menjadi kustomer Anda.

Ditambah lagi, Indonesia adalah negara kedua dengan tingkat konsumerisme tertinggi di dunia, setelah India. Dari segi kuantitas dan habit, masyarakat Indonesia sangat menguntungkan bagi UKM.

2. Budaya beragam

via Freepik

Untungnya, Indonesia merayakan suku, etnisitas dan agama yang begitu banyak. Ini berarti kebutuhan-nya amat beragam. Momen-momen perayaan ini menjadi ladang subur yang signifikan, khususnya UKM lokal untuk menciptakan profit.

Perlu diingat juga, setiap budaya memiliki kebiasaan ekonomi yang berbeda-beda. Pastinya akan menghasilkan ide bisnis yang unik-unik. Sehingga, selalu ada ruang untuk menciptakan inovasi bisnis.

3. SDM kuat

j

via Freepik

Dari statistik, Indonesia tidak akan mengalami kekurangan SDM. Indonesia berada di peringkat keempat dalam peringkat negara penduduk terbanyak di dunia. Terlebih, sekitar 46% dari kita adalah tenaga siap kerja. Akan lebih baik jika tenaga ini diserap oleh UKM lokal, dibandingkan perusahaan multinasional.

Kekeluargaan di Indonesia juga kuat sehingga masih banyak komunitas, paguyuban, bahkan koperasi. Dari perkumpulan seperti ini, kita bisa mendapatkan training, workshop dan forum UKM yang diadakan oleh pemerintah maupun swasta. Dengan lingkungan kekeluargaan seperti ini, akan tercipta energi sinergis antar UKM.

4. Dukungan pemerintah

via http://pnm.co.id/ulamm

Ibu Susi Pudjiastuti pernah mengeluhkan “…kalau orang mau jualan pisang kenapa harus bikin SIUP, bikin license. When the people want to do something untuk negara, jangan buat mereka menunggu, mengemis…” Untungnya kini UKM tidak wajib mengurus izin, hanya perlu mendaftar. Ini tentunya kabar baik sebab pelaku UKM tidak perlu merasa terbebani masalah perizinan.

Dukungan pemerintah juga hadir dalam bentuk permodalan. Tidak hanya dititipkan melalui APBD, bantuan modal bahkan dikelola langsung oleh badan khusus. Salah satunya, ada Permodalan Nasional Madani (PNM), BUMN yang fokus pada pembiayaan dan pendampingan UKM.

5. Belum banyak UKM

via Unsplash

Dapat dipastikan keluhan “yang bisnis kan sudah banyak” tidak terbukti benar. Setidaknya, jika dibandingkan dengan total penduduk Indonesia.

Per tahun 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa ada sekitar 7.8 juta penduduk Indonesia yang berwirausaha. Ini berarti baru ada 3.1% di Indonesia yang berani maju sebagai masyarakat yang independen secara ekonomi.

Mau menjadi menjadi bagian dari 3% tersebut?
Konektifa punya usulan model bisnis untuk UKM Indonesia, lihat di sini.


http://bisnis.liputan6.com/read/2142784/menteri-susi-minta-ukm-tak-perlu-urus-izin-usaha
https://www.bps.go.id/index.php
https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/971
http://www.depkop.go.id/content/read/tidak-lagi-izin-ke-depan-ukm-cukup-hanya-mendaftar/
http://goukm.id/dana-desa-untuk-ukm/
http://www.republika.co.id/berita/selarung/suluh/17/08/17/ouu1ml282-jalan-ekonomi-hatta-untuk-rakyat 

http://www.worldometers.info/world-population/indonesia-population

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *