Asik dan Asin-nya Jualan Musiman

Dengan begitu banyaknya adat dan budaya, hampir sepanjang tahun selalu ada yang dirayakan oleh masyarakat Indonesia. Wah, jadi wirausaha di Indonesia peluang usaha-nya kebuka terus! Mari simak asik dan asin-nya jualan musiman.

Wirausaha memang butuh kejelian dalam melihat celah tren dan musim. Tunggu, tunggu. Apa bedanya tren dengan musim?

Tren yang dimaksud di sini adalah selera kolektif masyarakat yang lagi digandrungi pada satu masa tertentu. Sedangkan musim lebih bergantung pada momen sakral di masyarakat, yang bisa jadi berulang dalam waktu dekat.

Sejak beberapa tahun lalu masyarakat Indonesia heboh dengan martabak berbagai topping. Nah, tren topping ini datang dan pergi, mulai dari masa-masa green tea dan red velvet, hingga sekarang giliran mozzarella. Ada musim puasa, lebaran, mudik, liburan, ajaran baru. Di akhir tahun akan semakin ramai dengan adanya natal dan tahun baru. Biasanya, usaha fashion yang paling bisa mainin pergerakan antar musim ini.

Clem Onojeghuo via Unsplash

Nah, kalau Anda sudah tertarik untuk menjadi pelaku usaha musiman, perlu juga menyimak hal-hal yang perlu diwaspadai, seperti:

  1. Tren selalu berubah. Musim biasanya memiliki jeda waktu yang dapat diprediksi. Ada yang bulanan, tahunan, pokoknya periodik. Berbeda dengan tren yang cenderung variatif dan terus berubah. Untuk sukses berjualan di musim Piala Dunia 2018, jangan sampai stuck di tren Piala Dunia 2014 lalu. Lebih baik cermati tren yang sedang menjamur saat ini.
  2. Sulit jaga pelanggan. Karena jangka waktu dari musim ke musim terhitung panjang, akan sulit bagi kita untuk menjaga hubungan dengan pelanggan. Apalagi jika pelanggan tersebut hanya punya histori beli sekali di toko kita. Untuk bantu menjaga pelanggan di momen tahun depan, pastikan tiap kustomer follow medsos kita atau bisa juga kita yang kumpulkan kontak mereka.
  3. Sekali tidak laku, susah dijual lagi. Karena mengandalkan momen, tantangannya ada di produk yang tidak langsung habis terjual saat itu juga. Sulit mengakali produk ini untuk dijual lagi di momen selanjutnya karena sudah tidak ada daya tarik euforia perayaan bagi kustomer. Lakukan pencatatan inventori dan penjualan yang baik untuk memprediksi stok yang kita perlukan, meminimalisir sisa barang tidak laku.

via anakmanjaonline.wordpress.com

Jika Anda tipe pelaku usaha yang musiman, simak aja dulu beberapa poin di bawah ini yang bakalan bikin Anda semakin semangat:

  1. Banyak pembeli. Tidak usah khawatir sepi pembeli, karena pengaruh momen musimnya, apalagi kalau tren-nya cocok, orang biasanya akan “bela-belain” beli produk kita. Yang penting, jaga terus kualitas dan pengalaman belanja kustomer.
  2. Momentum pas. Otomatis usaha kita akan masuk ke dalam important circle-nya para calon pembeli. Kalau sudah begini, sisi promosi kita tidak harus berlebihan. Cukup terlihat agak berbeda dari segi branding, maka marketing kita sudah aman.
  3. Barang berlimpah. Supply dan demand di suatu musim akan saling mempengaruhi. Semakin banyak pelaku usaha yang melihat celah ini, semakin banyak produsen yang akan ikut menggenjot produksinya. Tidak akan kesulitan dapat produk primer dan bahan baku.

Tenang aja, jadi pelaku usaha di Indonesia berarti selalu ada ide bisnis yang bisa jadi peluang. Tinggal mix & match tren serta musim yang sedang berjalan. Gak abis-abis!


Jika Anda butuh bantuan untuk menyimpan data kustomer dan supplier, mencatat inventori, menghitung stok dan melihat grafik usaha Anda, Konektifa menyediakannya dalam satu aplikasi. Salam UMKM!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *